bila dalam meninjau sesuatu yang telah dipelajari, seseorang dapat menangkap prinsip hal baru, maka ia bisa menjadi guru. -konfusius

Soemardi dan Mardjan: Kadal

Soemardi   : Djan, orang sekarang lucu ya.

Mardjan     : lucu bagaimana?

Soemardi   : ya, santai begitu. buka koran hanya lihat iklan. buka buku jika perlu. lihat sekitar cuma untuk survey berbayar.

Mardjan     : lihat jalan kalau-kalau ada kadal mati. takut terinjak.

Soemardi   : hahaha, ah apa sih. tiba-tiba kadal.

Mardjan     : haha, dulu saya kalau lihat kadal mati selalu ingin tahu siapa pembunuhnya. dan kenapa. kadal mati pasti ada alasan. pasti ada sebab.

Soemardi   : mungkin untuk tambah dosa si pembunuhnya, ya

Mardjan     : atau untuk tambahan pahala. kemarin saya lihat anak kecil korek-korek bangkai kadal kering di jalan komplek saya. lantas dibuang ke kali.

Soemardi   : katanya injak kadal bikin sial, Djan.

Mardjan     : mitos kayaknya. cuma supaya orang waspada, lihat sekeliling, sekitar. orang zaman dulu mungkin tahu nantinya orang-orang zaman baru terlalu sibuk mengurus diri ketimbang berbaur, bersosial.

Soemardi   : tapi kan bukan dengan kadal?

Mardjan     : ya, hahaha.

 

banyak jalan menuju roma

hari ini saya kembali berhadapan dengan musuh lama saya: semut. semut hitam yang kecil, yang kalau dari jauh cuma terlihat seperti titik dan koma bergandengan dengan lem tidak terlihat.

semut ini kalo gigit amit-amit. sakitnya sepersekiandetik, gatalnya berbulan-bulan. sudah begitu gatalnya ini sinusoidal: ada periodenya. kadang gatal sekali sampai ingin saya sundut rokok, kadang tidak. menyebalkaaaan.

tambah lagi, bekasnya itu, masya Allah, nggak hilang-hilang. bikin kesel.

minggu-minggu kemarin saya benar-benar diserang. mereka seperti tahu saya sedang butuh konsentrasi di sana-sini: ujian, dokumen tugas akhir, pertandingan futsalista, training calon pengurus, ah pokoknya banyak lah (padahal tidak). kerjaan saya duduk di kasur, ngerjain ini itu di atas meja lipat dua puluh limaribuan bergambar naruto, bersandar ke tembok.

kaki saya yang paling banyak diserang. ctit! betis saya seperti dicubit oleh manusia berukuran mikro; cubitan yang sering saya layangkan kepada teman-teman saya yang menyebalkan. ah jangan-jangan ini karma?

saya memeriksa betis. ada semut baru berhenti di situ. saya sentil pergi. pikir saya urusan ini ga akan jadi panjang, jadi ya saya teruskan kerjaan saya.

selang berapa lama rasa sakit yang sama berulang lagi di dekat lutut kanan saya. demi apa? masih banyak kayaknya yang lebih enak daripada kulit milik saya yang jarang mandi ini.

saya lihat gelas minum di meja dirubung semut. saya berani sumpah isinya air, air biasa. saya pikir perlu ada penelitian lebih lanjut tentang kenapa air kemasan bisa begitu atraktif buat semut, kecuali memang perusahaan air kemasan sekarang menambahkan beberapa jenis zat kimia manis yang menggiurkan. untuk semut.

berikutnya, saya taruh apapun di atas piring atau di dalam gelas, dari air biasa sampai tisu bekas ingus, semut pasti merubung.

and it goes on for weeks :|

saya tidak tinggal diam. zaman sekarang kalau ingin menang kita butuh data. informasi. saya pelajari semut ini tahu ada makanan dari mana. sarang mereka di mana. pernah saya coba sengaja menaruh gundukan nasi goreng bali sisa makan malam saya. saya perhatikan pada awalnya akan ada satu-dua prajurit semut spotting, menandai target mereka. terus mereka lari pulang, mungkin mengabari kamerad-kameradnya. lalu dari kamerad-kamerad tadi berita akan menyebar ke seluruh kawanan: ada segunduk nasi goreng bali  di atas piring hijau daun, manis bertengger di atas meja, tepat di depan printer.

lalu tahu-tahu paginya semut sudah merubungi nasi goreng saya itu. saya bangun dari kasur, menyusuri jejak perjalanan kawanan semut untuk tahu di mana mereka bermula: sarang mereka.

mereka keluar dari bawah printer. saya yang tiba-tiba berpikir mereka bikin sarang di sana, langsung mengangkat printer. untungnya printer saya ini cuma jadi semacam terowongan menuju jalan lain yang bikin saya bingung: kabel daya printer.

saya bergerak menuju colokan printer. nggak ada semut di sana. saya bingung betul, ini semut hilang di mana?

karena kesal saya geser meja, lihat ke bagian belakang. oh oh lihat itu semut lewat jalan lain, belok di persilangan antara kabel daya printer dengan kabel ethernet. pengalihan jalur. sialan.

saya susuri lagi itu kabel ethernet, yang ternyata menuju ke luar kamar saya, dunia antah berantah tempat sarang semut yang entah di mana. sistem yang sudah terlalu luas untuk saya susuri lagi mencari sarang semut (lebih tepat disebut malas. hahaha)

sebenarnya ibu saya di rumah juga berhadapan dengan masalah yang sama. solusi ibu saya cukup mengesankan, yaitu dengan menggariskan kapur ajaib (semacam kapur yang menolak semut seperti garam tolak bala untuk makhluk jadi-jadian) di sekeliling kaki meja. akses semut menuju makanan pun terputus. bedanya untuk saya, jalur masuk semut melompati kapur tadi, semut itu lewat.. apa yah, jalan layang. bypass. menyentuh pinggir meja pun tidak. gila.

frustasi, saya cabut kabel daya itu. matiin jalurnya sekalian. hahahaha.

saya pun pergi keluar untuk beli kebutuhan bulanan. saya juga beli kapur ajaib, mana tahu butuh.

kembali ke kamar kos saya langsung lihat meja. semut-semut itu masih ada! lewat mana lagi mereka?

sialnya saya lupa: ini meja belajar. alat elektronik yang butuh kabel di sini bukan cuma printer. semut-semut itu masuk lewat kabel lampu belajar!

aaaaaaah kapan daya listrik bisa ditransmisikan nirkabel?? hahahahaha jangan-jangan nanti semut pindahnya juga nirkabel :|

kesal, saya hentak itu kabel lampu, menyebabkan rombongan semut yang sedang lewat berjatuhan di atas lantai. saya cabut dari colokan dan menggulung kabelnya ke batang lampu, satu lagi akses menuju meja buat semut saya matikan.

kabel ethernet juga saya gulung dan sama sekali tidak menyentuh meja. semua kabel menuju meja saya gulung.

begitu ya semut? banyak jalan menuju roma, eh?

selesai gulung-gulung kabel, saya keluarkan kapur ajaib. saya garis seluruh sisi meja, bahkan tempat saya menaruh makanan saya buatkan kotak khusus. ciamik.

malam ini saya taruh bekas makanan di tengah-tengah kotak tadi. besok pagi ingin lihat saya wajah-wajah kepingin dari semut, berjejer di pinggir meja. bisa lihat tapi tidak bisa dapat. HAHAHA.

baal

2ba·al a kebal (tt rasa) krn kedinginan, disuntik, dsb sehingga tidak lagi berasa dingin, sakit, dsb; mati rasa

beberapa hari ini dunia dikejutkan oleh berita tentang seorang balita di RRC yang ditabrak dua kali dan sekarat di tengah jalan.

berikut videonya:

hal yang mengejutkan dan membuat orang sedunia membicarakan video ini adalah fakta bahwa orang-orang di sekitarnya berlalu saja seperti tidak ada apa-apa, seperti tidak ada yang mengganggu dunia mereka saat itu. pemberitaan media massa penuh dengan komentar-komentar yang menunjukkan kecaman, hinaan, bahkan kesempatan untuk menunjukkan rasisme yang berlebihan (sebenarnya ini tipikal orang Indonesia sih. haha).

ah, tapi kan memang begitu ya? paling mudah untuk mengecam, komentar sana sini, merasa yang paling benar. lalu setelah komentar begitu merasa sudah berbuat baik, sudah cukup memberikan kesan bahwa, saya peduli. saya masyarakat yang peduli. saya masyarakat bermoral yang tidak mungkin melakukan hal itu. saya adalah lulusan sekolah yang diajarkan pendidikan kewarganegaraan untuk menolong nenek-nenek menyeberang.

saya juga begitu. ikut teriak-teriak di himpunan saya kemarin, mengutuk-ngutuk dari mulai orang yang melewati si bocah yang sedang terkapar, supir truk yang menabraknya, ibu dari anak itu, sampai anak itu sendiri saya kutuk juga, ngapain sih mondar-mandir di tengah jalan, bikin kasus aja. hehe.

menurut berita yang saya baca, masyarakat RRC sekarang memiliki keraguan untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan, karena khawatir pada akhirnya mereka yang akan disalahkan. seperti pada kasus yang lumayan disorot: orang Samaria yang justru harus memberikan sejumlah uang yang sangat besar kepada individu yang ingin mereka tolong.

seperti dikutip dari kompas.com:
“… Booming ekonomi China dan kesenjangan yang menganga antara yang kaya dan miskin telah membuat perubahan nilai-nilai sosial menjadi topik perdebatan. Sejumlah orang meratapi apa yang mereka lihat bahwa materialisme telah menggantikan moral.”

oh jadi ini bentuk ekstremnya dekadensi moral? nggak tau juga sih (yah sebenernya yang namanya ekstrem itu nggak punya patokan kan? hari ini kita bisa bilang fenomena A ekstrem, mana tahu di lain hari fenomena A berkembang menjadi lebih ekstrem dan menjadi fenomena A’. habis begitu fenomena A nggak terasa lagi, berlaku seperti kejadian biasa saja.)

setelah banyak mengutuk-ngutuk, ada kejadian lucu malam itu, yang malah membuat saya termenung lama. saya berangkat makan kemarin malam. saya lihat dompet saya kosong melompong, padahal saya sedang di luar kampus. walhasil saya berhenti untuk mencari atm terdekat dan mengambil uang di sana.

di depan atm berkumpul banyak anak kecil, duduk di sana mengobrol satu sama lain. perangai mereka berubah ketika ada yang baru keluar dari bilik atm. ya, mereka peminta-minta. saya yang jarang ambil uang di luar kampus tidak terbiasa dengan pemandangan ini.

hmm, padahal pemerintah sudah berbuat “banyak” untuk “menyingkirkan” para penggiat jalanan ini. ada pelatihan keterampilan, dsb. malah di Jakarta sempat ada kebijakan mendenda orang-orang yang memberikan uang kepada mereka. alasan logisnya sih seharusnya orang-orang seperti ini memang tidak diberi rasa nyaman untuk melakukan pekerjaan tersebut. sebab orang yang merasa tidak nyaman nantinya akan tidak betah dan mencari yang lebih nyaman, bukan?

setelah ambil uang di atm saya keluar bilik. anak-anak di depan saya berebut bicara dengan suara lirih: “teh, kasian teh, kasian teh..”

saya berjalan cepat melewati mereka tanpa punya keinginan lebih untuk memberikan sekadar senyum atau apa. sudah terlalu sering saya lihat peminta-minta: di jalan, di kuburan, di tempat makan, bahkan di SMA saya dulu. ah, dulu teman-teman saya kalau ada pengamen atau tukang minta-minta suka diajak ngobrol, ditraktir makan, sampai orangnya malu dan jarang balik lagi. hihihi.

lalu tiba-tiba saya tersentak: saya merasa baal. ada anak-anak kelaparan (atau tampak kelaparan) di depan saya, dan saya bahkan tidak terlalu peduli, tidak sakit maupun gatal.

bagaimana misalnya nanti ada anak kecil sekarat di jalan? suatu hari beratus hari dari sekarang saya jadi tidak yakin, apa iya anak-anak Indonesia sekarang, punya rasa peduli yang cukup untuk sekedar menarik anak tersebut ke pinggir jalan, sama seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu pengemis pada video di atas.

“dua ribu, mbak,” kata penjaga pos parkir saat saya keluar gerbang. saya kasih dua ribu, sementara di sana ada lagi, tepat di samping pos penjaga, masih dalam jangkauan tangan saya: bocah laki-laki dekil yang menengadahkan bungkus permen bekas.

saya menutup jendela dan berlalu.

ah, pung. mau baal terus?

Batman Versus Sherlock Holmes

9GAG – Batman Versus Sherlock Holmes.

 

pernahkah saya cerita kalau saya sangat menyukai batman? nanti di lain waktu akan saya post tentang itu.

dan dalam strip komik ini ada tokoh yang sangat digemari oleh sahabat baik saya si achie, muncul bersamaan dengan si batman.

buat achie: ini lucu chie hahaha. kita kayaknya kayak gini juga yah? :P

mau nyoba ah ngegantung kamu kebalik kayak gitu sekali sekali.

terbangkan rumahmu

parah. beneran bisa terbang. itu loh kayak rumah yang di film animasi UP.

entah gimana caranya habis nonton ini setan-setan pembunuh ide di kepala saya terbantai seluruhnya. eat that!

nggak masuk akal! hahahaha.

makasih buat mas Dimas Agil Triatmodjo yang udah share ini di profilenya. :)

 

 

plung!

eco-campus sedang hangat dibicarakan di seantero kampus saya. yah, bagi sebagian orang sih, tapi paling tidak hangat-hangatnya terasa lah ya. Forum Ganesha Hijau juga sedang giat-giatnya menyusun berbagai program dan acara untuk mengajak massa kampus menggiatkan eco-eco ini. euforia sebagian orang saja apa gimana ya?

Sering terdengar sindiran untuk anak-anak ITB: katanya pinter-pinter, tapi tempat sampah busuk sama tidak membusuk isinya sama sama aja tuh. malu juga.

mungkin anak-anak mikirnya buang sampah itu serupa ngupil kali ya, lubang kiri atau kanan ga masalah. yang penting ada upil yang bisa diambil di sana. masalahnya kalo lubangnya lubang yang lain? lubang pantat, gitu? hahaha ya beda lagi kan yang bisa diambil. semuanya kan sudah punya tempatnya masing-masing.

kalau saya pikir sih, ah apa susahnya milah. ngabisin ga sampe dua menit juga (tapi saya jadi mikir juga apa ya yang bisa men-trigger orang buat milah? ada yang punya ide?), lagian kampus kita juga udah oke kok, truk sampah yang ngangkut dua jenis sampah itu juga udah dibedain, gitu sih kata Ganesha Hijau.

tapi saya agak bete aja waktu buang sampah pagi tadi. plung! sampah sayanya lolos gitu, keluar lagi dari bawah. kok bisa? ini liat aja tempat sampahnya.

tempat sampah ini saya foto di dekat tokema, persimpangan boulevard kampus

saya pikir, ah elah percuma amat jadi tempat sampah. haha.

itu tempat sampahnya diapain sampe bolong gitu ya? mungkin sampahnya mahasiswa sekarang bahannya korosif semua kali ya. ga heran tong sampah yang jadi sasaran pembakaran, bahan kimianya cukup tersedia di sana. hahaha.

ah tapi paling-paling sampah yang masuk sana berair, basah, lembab, jadi aja keropeng karat bermunculan, sampe akhirnya bolong. tempat sampah macam begini juga bisa ditemui di beberapa spot lain, seperti di lab fisika dasar dan di dekat campus center. apa iya kampus ga punya perencanaan untuk bikin tempat sampah yang anti karat? segitu di kuliah aja kita wajib ambil mata kuliah kesehatan lingkungan, ngebahas pengolahan sampah tuh di sana. yaelah dul.

kalo bener mau eco campus ya semua fragmen “kampus” harus terlibat dong. :)

 

kesediaan ayam

kemarin saya makan di rumah makan sambal hejo di natuna. ada yang sudah pernah? enak loh (naon promosi hahaha). saya makan berdua dengan ua saya. beliau kelaparan katanya, jadi dari perjalanan langsung saya belokkan ke sana, saya pikir penyajiannya cepat, enak, dan yang paling penting: murah. hehe.

benar saja begitu makanan datang ua saya tanpa ba-bi-bu langsung menyerbu.

saya tidak, malah melihat sekeliling. tiap-tiap meja terdapat satu piring berisi potongan-potongan ayam: 2 paha bawah, 2 sayap, 2 potongan dada.

wah, itu artinya untuk tiap meja paling tidak seekor ayam berkubang di minyak goreng menemui ajalnya (lebay, bae lah).

saya lihat satu keluarga. anaknya dua, gemuk dan sehat. idaman tiap keluarga sepertinya ya. ibu bapaknya juga begitu (hanya anehnya, obrolan mereka sedikit sekali. keluarga itu harusnya hangat kan ya, obral obrol, terlebih jika waktu yang dihabiskan bersama sangat sedikit. well, mungkin itu satu keluarga yang pendiam–atau mulut mereka terlalu sibuk mengunyah makanan).

bagi mereka, sepiring untuk satu. a plate for one. hitung-hitung berarti ada empat ayam menyerahkan lehernya untuk memenuhi meja mereka.

saya berpikir-pikir lagi lebih jauh–jika rumah makan ini penuh terus sepanjang hari, bahkan sepanjang minggu, berapa ayam yang harus dikorbankan?

misalkan semua orang hari ini makan satu ekor ayam. berarti untuk memenuhi kebutuhan pangan esoknya, jumlah ayam haruslah minimal dua kali lipat dari jumlah manusia. sekarang apa yang terjadi jika jumlah ayam sebenarnya tidak sebanyak itu?

oke, masih ada sapi, kambing, domba, apa lagi ya? kuda, kerbau, burung unta, kelinci, ikan, lobster, udang, kepiting, kerang, apa lagi?

masih ada sayuran, beras, jagung, buah-buahan, apa lagi?

masih ada bulu babi, cecak, belalang, kalau habis?

 

luar biasa apa yang Tuhan sediakan untuk kita manusia.

ras hidup lain, saya pikir, tidak difasilitasi sedemikian hebat. pikiran saya mulai berkelebat. semacam ekspektasi, mungkin? setelah fasilitas dan resources sedemikian wahid.

atau jangan-jangan layaknya ternak saja: digemukkan, kemudian dikurbankan. tanpa value added. tanpa kontribusi lain untuk sekitar. hanya kontribusi pupuk saja ketika tubuh fisik masuk ke bumi, menyatu dengan tanah. bikin gembur ladang dan lahan.

naudzubilahimindzalik.

saya melihat ke piring saya yang masih kosong. saya melihat ua saya.

“makan, pung. udah jam berapa ini, nanti maag,” kata ua saya.

“iya ua,” dan saya pun menyendok nasi dari bakul.

 

 

nyontek

praduga bersalah adalah hal yang paling saya benci namun sekaligus lumrah dan sering dimaklumi. padahal asas penjatuhan hukuman di Indonesia ini berlaku sebaliknya. ah tapi kalau bicara soal hukum saya tidak merasa capable euy [btw ini lihat bahasa sunda dan bahasa inggris sederajat begini lah sama-sama miring, diakui bahasa asing mang! hahaha], jadi itu kita serahkan sama ahlinya saja yah, butuh diskusi panjang masalahnya.

udah dari kecil kita diperlakuin begitu: inget nggak waktu dulu jaman masih berseragam, kalo mau ulangan pasti kita duduknya dipisah berjarak berjauh-jauhan? seakan-akan kita udah dicurigai bakal nyontek?

jahat ya, penghinaan sama moralitas kita itu. padahal bisa aja kita yang masih bocah belum kepikiran buat nyontek sama sekali. tapi ya karena dicurigai itu malah jadi nekat.

ke sini-sininya malah jadi parah. tingkat nyontek para siswa jadi nggak terkendali. saya jadi ingat kemarin waktu me-moderatori sebuah diskusi bertajuk Integritas Akademik di Diklat Dasar Aktivis Terpusat (diselenggarakan oleh PSDM-KM ITB), Pak Dwiwahju Sasongko atau biasa dipanggil Pak Song menyatakan bahwa ada lima bagian dari terwujudnya Integritas Akademik:

  1. honesty; kejujuran. yang paling ngeri, justru kejujuran yang paling ditunggu dan harusnya paling murni adalah kejujuran dari instansi pendidikan. tempatnya para cendekia dibentuk buat jadi problem solver masa depan. dari mana lagi kejujuran bisa didapatkan?
  2. trust; kepercayaan. ini yang saya bahas di atas tadi, harus ada saling percaya antar elemen, yang ada sekarang saling tuduh, curiga. ada teknologi baru, dicurigai. siswa mah ya nurut ajah dicurigai, malah banyak yang semakin tertantang–dan lihai mencari celah.
  3. fairness; sama rata, sesuai porsi. intinya nggak ada hak istimewa, perlakuan istimewa.
  4. respect; hormat menghormati. herannya kita yang punya budaya timur kok ini sering diabaikan sama sekali ya. pakai data orang main ambil saja nggak bilang dari mana asalnya. itu pelecehan saya kira, kepada manusia lain, karena kita ambil buah pikiran, kreasi orang lain, lantas diaku-aku. bukan berarti saya sepakat kepada paten–buat saya paten sedikit banyak malah menghambat kemajuan hahaha, namun pencatuman asal data adalah hal logis. itu karena selama hidup kita terus mencaplok isi pemikiran orang, sadar atau tidak. dan itu lah yang membuat kita maju. jadi penghargaan untuk itu sangat logis lah ya?
  5. responsibilities; tanggung jawab. tulis apa yang diinginkan, lakukan apa yang ditulis, dan pertanggungjawabkan apa yang dilakukan.

kelanjutannya apa? orang jadi nagih, susah berhenti. beberapa orang menyalahkan sistem yang tidak mampu mereka lawan. susah, katanya, jadi orang baik.

hihihi padahal percaya atau nggak jadi orang baik maupun jadi orang jahat sama susahnya. semua juga butuh proses. ingat saja pertama kali nyontek, pasti tegangnya minta ampun. takut ketahuan dan sebagainya. tapi lama kelamaan makin terbiasa, makin lihai–jiwa, otak, hati kita akhirnya terbiasa dengan itu. terbentuk lah paradigma “mudah” yang selama ini kita tahu. saya sih percaya jadi orang baik juga begitu.

coba dari kecil kita sudah dibiasakan menjadi orang baik. yang merasa berdosa kepada guru-guru kalau kita nyontek, merasa berdosa sama pensil, penghapus, tas sekolah, buku, dan seragam ketika kita nyontek. merasa berdosa sama ibu, ayah, kakak yang ngajarin buat ujian tadi pagi, adek yang nyemangatin ujian hari ini, pak supir angkot yang nganter ke depan sekolah, berdosa sama agama, bangsa, bahkan sama soal ujian itu sendiri; yang hanya tertulis di sana untuk dilecehkan.

dengan kita yang kosong pikiran dan mulai menyalin.

Beetlejuice

beetlejuice. saya kaget pas tau ternyata ini film komedi, bukan horror. hyahahaha.

soalnya pas kecil saya pernah nonton film ini, waktu itu saya lagi nunggu antrean di dokter gigi. biasalah masih bocah, mau cabut gigi susu. pas lagi tegang-tegangnya nunggu dipanggil, suster rumah sakitnya nyetel film ini di tv ruang tunggu.

entah scene bagian apa ya, pokoknya abis nonton scene itu saya ketakutan setengah mati, sampe-sampe selama seminggu setelahnya saya solat tepat waktu nggak nunda-nunda, tambah solat dhuha, tambah baca quran. gabisa tidur.

gila dong masa kecil saya, terrified by a comedy movie -_____-. but thanks anyway buat tim burton sang sutradara (ternyata), yang sampe sekarang adalah sutradara ter-jenius versi saya, karena berkat film ini dulu saya jadi tahu kemana harus mengadu. hehe.

kosong

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.