bila dalam meninjau sesuatu yang telah dipelajari, seseorang dapat menangkap prinsip hal baru, maka ia bisa menjadi guru. -konfusius

baal

2ba·al a kebal (tt rasa) krn kedinginan, disuntik, dsb sehingga tidak lagi berasa dingin, sakit, dsb; mati rasa

beberapa hari ini dunia dikejutkan oleh berita tentang seorang balita di RRC yang ditabrak dua kali dan sekarat di tengah jalan.

berikut videonya:

hal yang mengejutkan dan membuat orang sedunia membicarakan video ini adalah fakta bahwa orang-orang di sekitarnya berlalu saja seperti tidak ada apa-apa, seperti tidak ada yang mengganggu dunia mereka saat itu. pemberitaan media massa penuh dengan komentar-komentar yang menunjukkan kecaman, hinaan, bahkan kesempatan untuk menunjukkan rasisme yang berlebihan (sebenarnya ini tipikal orang Indonesia sih. haha).

ah, tapi kan memang begitu ya? paling mudah untuk mengecam, komentar sana sini, merasa yang paling benar. lalu setelah komentar begitu merasa sudah berbuat baik, sudah cukup memberikan kesan bahwa, saya peduli. saya masyarakat yang peduli. saya masyarakat bermoral yang tidak mungkin melakukan hal itu. saya adalah lulusan sekolah yang diajarkan pendidikan kewarganegaraan untuk menolong nenek-nenek menyeberang.

saya juga begitu. ikut teriak-teriak di himpunan saya kemarin, mengutuk-ngutuk dari mulai orang yang melewati si bocah yang sedang terkapar, supir truk yang menabraknya, ibu dari anak itu, sampai anak itu sendiri saya kutuk juga, ngapain sih mondar-mandir di tengah jalan, bikin kasus aja. hehe.

menurut berita yang saya baca, masyarakat RRC sekarang memiliki keraguan untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan, karena khawatir pada akhirnya mereka yang akan disalahkan. seperti pada kasus yang lumayan disorot: orang Samaria yang justru harus memberikan sejumlah uang yang sangat besar kepada individu yang ingin mereka tolong.

seperti dikutip dari kompas.com:
“… Booming ekonomi China dan kesenjangan yang menganga antara yang kaya dan miskin telah membuat perubahan nilai-nilai sosial menjadi topik perdebatan. Sejumlah orang meratapi apa yang mereka lihat bahwa materialisme telah menggantikan moral.”

oh jadi ini bentuk ekstremnya dekadensi moral? nggak tau juga sih (yah sebenernya yang namanya ekstrem itu nggak punya patokan kan? hari ini kita bisa bilang fenomena A ekstrem, mana tahu di lain hari fenomena A berkembang menjadi lebih ekstrem dan menjadi fenomena A’. habis begitu fenomena A nggak terasa lagi, berlaku seperti kejadian biasa saja.)

setelah banyak mengutuk-ngutuk, ada kejadian lucu malam itu, yang malah membuat saya termenung lama. saya berangkat makan kemarin malam. saya lihat dompet saya kosong melompong, padahal saya sedang di luar kampus. walhasil saya berhenti untuk mencari atm terdekat dan mengambil uang di sana.

di depan atm berkumpul banyak anak kecil, duduk di sana mengobrol satu sama lain. perangai mereka berubah ketika ada yang baru keluar dari bilik atm. ya, mereka peminta-minta. saya yang jarang ambil uang di luar kampus tidak terbiasa dengan pemandangan ini.

hmm, padahal pemerintah sudah berbuat “banyak” untuk “menyingkirkan” para penggiat jalanan ini. ada pelatihan keterampilan, dsb. malah di Jakarta sempat ada kebijakan mendenda orang-orang yang memberikan uang kepada mereka. alasan logisnya sih seharusnya orang-orang seperti ini memang tidak diberi rasa nyaman untuk melakukan pekerjaan tersebut. sebab orang yang merasa tidak nyaman nantinya akan tidak betah dan mencari yang lebih nyaman, bukan?

setelah ambil uang di atm saya keluar bilik. anak-anak di depan saya berebut bicara dengan suara lirih: “teh, kasian teh, kasian teh..”

saya berjalan cepat melewati mereka tanpa punya keinginan lebih untuk memberikan sekadar senyum atau apa. sudah terlalu sering saya lihat peminta-minta: di jalan, di kuburan, di tempat makan, bahkan di SMA saya dulu. ah, dulu teman-teman saya kalau ada pengamen atau tukang minta-minta suka diajak ngobrol, ditraktir makan, sampai orangnya malu dan jarang balik lagi. hihihi.

lalu tiba-tiba saya tersentak: saya merasa baal. ada anak-anak kelaparan (atau tampak kelaparan) di depan saya, dan saya bahkan tidak terlalu peduli, tidak sakit maupun gatal.

bagaimana misalnya nanti ada anak kecil sekarat di jalan? suatu hari beratus hari dari sekarang saya jadi tidak yakin, apa iya anak-anak Indonesia sekarang, punya rasa peduli yang cukup untuk sekedar menarik anak tersebut ke pinggir jalan, sama seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu pengemis pada video di atas.

“dua ribu, mbak,” kata penjaga pos parkir saat saya keluar gerbang. saya kasih dua ribu, sementara di sana ada lagi, tepat di samping pos penjaga, masih dalam jangkauan tangan saya: bocah laki-laki dekil yang menengadahkan bungkus permen bekas.

saya menutup jendela dan berlalu.

ah, pung. mau baal terus?

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.