bila dalam meninjau sesuatu yang telah dipelajari, seseorang dapat menangkap prinsip hal baru, maka ia bisa menjadi guru. -konfusius

banyak jalan menuju roma

hari ini saya kembali berhadapan dengan musuh lama saya: semut. semut hitam yang kecil, yang kalau dari jauh cuma terlihat seperti titik dan koma bergandengan dengan lem tidak terlihat.

semut ini kalo gigit amit-amit. sakitnya sepersekiandetik, gatalnya berbulan-bulan. sudah begitu gatalnya ini sinusoidal: ada periodenya. kadang gatal sekali sampai ingin saya sundut rokok, kadang tidak. menyebalkaaaan.

tambah lagi, bekasnya itu, masya Allah, nggak hilang-hilang. bikin kesel.

minggu-minggu kemarin saya benar-benar diserang. mereka seperti tahu saya sedang butuh konsentrasi di sana-sini: ujian, dokumen tugas akhir, pertandingan futsalista, training calon pengurus, ah pokoknya banyak lah (padahal tidak). kerjaan saya duduk di kasur, ngerjain ini itu di atas meja lipat dua puluh limaribuan bergambar naruto, bersandar ke tembok.

kaki saya yang paling banyak diserang. ctit! betis saya seperti dicubit oleh manusia berukuran mikro; cubitan yang sering saya layangkan kepada teman-teman saya yang menyebalkan. ah jangan-jangan ini karma?

saya memeriksa betis. ada semut baru berhenti di situ. saya sentil pergi. pikir saya urusan ini ga akan jadi panjang, jadi ya saya teruskan kerjaan saya.

selang berapa lama rasa sakit yang sama berulang lagi di dekat lutut kanan saya. demi apa? masih banyak kayaknya yang lebih enak daripada kulit milik saya yang jarang mandi ini.

saya lihat gelas minum di meja dirubung semut. saya berani sumpah isinya air, air biasa. saya pikir perlu ada penelitian lebih lanjut tentang kenapa air kemasan bisa begitu atraktif buat semut, kecuali memang perusahaan air kemasan sekarang menambahkan beberapa jenis zat kimia manis yang menggiurkan. untuk semut.

berikutnya, saya taruh apapun di atas piring atau di dalam gelas, dari air biasa sampai tisu bekas ingus, semut pasti merubung.

and it goes on for weeks :|

saya tidak tinggal diam. zaman sekarang kalau ingin menang kita butuh data. informasi. saya pelajari semut ini tahu ada makanan dari mana. sarang mereka di mana. pernah saya coba sengaja menaruh gundukan nasi goreng bali sisa makan malam saya. saya perhatikan pada awalnya akan ada satu-dua prajurit semut spotting, menandai target mereka. terus mereka lari pulang, mungkin mengabari kamerad-kameradnya. lalu dari kamerad-kamerad tadi berita akan menyebar ke seluruh kawanan: ada segunduk nasi goreng bali  di atas piring hijau daun, manis bertengger di atas meja, tepat di depan printer.

lalu tahu-tahu paginya semut sudah merubungi nasi goreng saya itu. saya bangun dari kasur, menyusuri jejak perjalanan kawanan semut untuk tahu di mana mereka bermula: sarang mereka.

mereka keluar dari bawah printer. saya yang tiba-tiba berpikir mereka bikin sarang di sana, langsung mengangkat printer. untungnya printer saya ini cuma jadi semacam terowongan menuju jalan lain yang bikin saya bingung: kabel daya printer.

saya bergerak menuju colokan printer. nggak ada semut di sana. saya bingung betul, ini semut hilang di mana?

karena kesal saya geser meja, lihat ke bagian belakang. oh oh lihat itu semut lewat jalan lain, belok di persilangan antara kabel daya printer dengan kabel ethernet. pengalihan jalur. sialan.

saya susuri lagi itu kabel ethernet, yang ternyata menuju ke luar kamar saya, dunia antah berantah tempat sarang semut yang entah di mana. sistem yang sudah terlalu luas untuk saya susuri lagi mencari sarang semut (lebih tepat disebut malas. hahaha)

sebenarnya ibu saya di rumah juga berhadapan dengan masalah yang sama. solusi ibu saya cukup mengesankan, yaitu dengan menggariskan kapur ajaib (semacam kapur yang menolak semut seperti garam tolak bala untuk makhluk jadi-jadian) di sekeliling kaki meja. akses semut menuju makanan pun terputus. bedanya untuk saya, jalur masuk semut melompati kapur tadi, semut itu lewat.. apa yah, jalan layang. bypass. menyentuh pinggir meja pun tidak. gila.

frustasi, saya cabut kabel daya itu. matiin jalurnya sekalian. hahahaha.

saya pun pergi keluar untuk beli kebutuhan bulanan. saya juga beli kapur ajaib, mana tahu butuh.

kembali ke kamar kos saya langsung lihat meja. semut-semut itu masih ada! lewat mana lagi mereka?

sialnya saya lupa: ini meja belajar. alat elektronik yang butuh kabel di sini bukan cuma printer. semut-semut itu masuk lewat kabel lampu belajar!

aaaaaaah kapan daya listrik bisa ditransmisikan nirkabel?? hahahahaha jangan-jangan nanti semut pindahnya juga nirkabel :|

kesal, saya hentak itu kabel lampu, menyebabkan rombongan semut yang sedang lewat berjatuhan di atas lantai. saya cabut dari colokan dan menggulung kabelnya ke batang lampu, satu lagi akses menuju meja buat semut saya matikan.

kabel ethernet juga saya gulung dan sama sekali tidak menyentuh meja. semua kabel menuju meja saya gulung.

begitu ya semut? banyak jalan menuju roma, eh?

selesai gulung-gulung kabel, saya keluarkan kapur ajaib. saya garis seluruh sisi meja, bahkan tempat saya menaruh makanan saya buatkan kotak khusus. ciamik.

malam ini saya taruh bekas makanan di tengah-tengah kotak tadi. besok pagi ingin lihat saya wajah-wajah kepingin dari semut, berjejer di pinggir meja. bisa lihat tapi tidak bisa dapat. HAHAHA.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.