Balada Touchpad

Beberapa hari ini saya frustasi. Saya baru ganti laptop (ga juga sih udah sekitar 7 bulan lah haha), ASUS UX32LA Windows 8. Saya frustasi sama touchpadnya yang sensitif sama telapak tangan, mengakibatkan ngetik jadi susah karena swipe gestures ASUS kiri-kanan buka menu lain. mengacaukan konsentrasi. menyebalkan.

Saya udah coba tekan Fn + F9 untuk mematikan touchpad, tapi hasilnya nihil. Lucu padahal kombinasi Fn + Fx yang lain berfungsi normal.

Berkali-kali juga nyoba nyari Wisdom of the Past alias gugling di forum-forum gimana cara matiin touchpad. nothing works.

apa kurang sabar ya.

saya sampai bela-belain beli keyboard terpisah demi bisa ngetik enak.

Setelah mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera, akhirnya nemu juga caranya:

Masuk ke C:>eSupport>eDriver>Software> Touchpad>Asus>SmartGesture>Win7,8,-lalala>…klik di “setup .exe” (jalankan)

terus klik repair

terus disuruh restart, yaudah restart, nurut.

It worked. 

nah sekarang, keyboard yang udah dibeli dikemanain ya?

😀

 

sumber: http://windowssecrets.com/forums/showthread.php/155788-How-to-disable-the-touchpad

Iklan

sampai kapan akan lost in translation

baru diskusi pemodelan sama orang jerman. orangnya jago banget, habis s1 terus Ausbildung (semacam pendidikan kerja lanjutan) terus dia lanjut s2 di kampus saya. terus tadi dia bilang, “we should somehow redefine its feather constant” –fyi kita emang kalo ngobrol campur jerman-inggris–. karena dia jago banget kan, saya manggut-manggut aja tapi bingung kenapa di pemodelan motor transient ada bulu segala?

setelah bermenit-menit kemudian baru saya sadar dia terjemahin bahasa jerman die Feder, yang artinya memang dua, feather “bulu”, atau spring “pegas”.

Prasangka

Jarang aku menunggu sampai sepuluh menit di halte ini. Biasanya dari apartemen aku berangkat dipaskan benar waktunya, supaya tak perlu menunggu lama. Tapi kali ini biarlah, kamarku sedang bau asap bekas menggoreng ikan tadi pagi, tak sedap betul baunya. Maka kuputuskan berangkat lebih awal dan kubiarkan jendela terbuka, supaya terganti asap itu dengan udara bersih dari hutan belakang kampus.

Bis menuju kampus biasanya penuh mahasiswa, tapi bis arah sebaliknya tidak. Maka itu aku mau saja bawa kereta belanja, sekalian beli beras ke toko asia. Pasti masih ada tempat untuk keretaku diparkir di dalam bis.

Aku melihat ke kiri kanan, halte sepi. Mungkin karena hari kuliah, sedang aku hari ini libur. Aku duduk dan menyeret kereta belanjaku ke sebelah bangku, agak mengeluh. Datang terlalu cepat nggak menguntungkan karena udara sedang dingin.

Tiba-tiba dari belakang halte ada seorang perempuan berambut panjang blonde berjalan dengan cepat. Topi lebar warna hitam, kaus pas merah tangan panjang, dan rok hitam. Seketika aku memperhatikan ada yang janggal. Pundak dan dadanya terlalu bidang untuk ukuran wanita, dan kakinya… dia bertelanjang kaki. Dingin-dingin begini?

Mungkin Hippies, pikirku cepat.

Namun semakin perempuan itu mendekat, aku semakin menyadari keanehan lainnya. Ada jenggot ala Robert Downey Jr. di wajahnya. Dia pakai kacamata kotak dengan frame tebal hitam, dan memegang sekaleng bir.

Dia masuk ke halte dan duduk di bangku samping. Aku agak menjauh ke pinggir, tidak tahu kenapa. Mungkin karena aneh sekali ya, atau mungkin juga karena bau alkohol yang begitu menyengat. Aku melihat sekeliling, tidak ada orang sama sekali. Aneh, biasanya ramai di sini. Perasaanku jadi tidak enak. Apa aku kembali saja ke rumah? Aku menjejak-jejak ke tanah tanpa alasan, kenapa aku terganggu sekali dengan orang ini ya?

Mungkin dia hanya laki-laki mabuk dan berpakaian perempuan, atau dia memang begitu walaupun tidak mabuk. Atau dia tak sengaja tercebur di danau dan harus meminjam baju dari teman perempuannya. Atau hari ini ada perayaan memakai pakaian perempuan?

Alles in Ordnung?”

Semua baik-baik saja? Orang itu tiba-tiba bertanya. Mungkin bingung aku menjejak-jejak dari tadi dan melihat ke sana kemari.

Ja,”

ya, jawabku, sambil memaksakan senyum simpul.

Bis datang dan dia berdiri. Aku tetap duduk. Dia masuk ke bis, dan pintu bis menutup di belakangnya.

Itu memang bisku. Tapi aku diam saja.

Moderasi Ujung Jari

baca berita daring (online) sekarang “bising ya. banyak sampahnya. komentar-komentar berserakan di sana sini, seringkali ga enak dilihat. ini apa saya aja yang baru ngerasain baru-baru ini, atau emang ini fenomena yang terjadi sejak dulu? saya sendiri kehilangan bacaan media cetak (berbahasa indonesia), yang jauh lebih “sunyi” (yaiyalah mau komentar di mana haha). ya sejak berada di jerman sini. walhasil kalau mau tahu berita, cerita yang lagi seru di indonesia (dan saya juga nggak mau kehilangan ketajaman bahasa kesayangan saya ini karena setiap hari berhadapan dengan bahasa asing), saya cari di online. yah sedikit beruntung pas ulang tahun kemarin teman baik saya si achie (yang udah sering banget saya sebut haha) ngasih saya kado buku, judulnya provokatif abis (buat saya haha), Pulang, oleh Leila S Chudori. lumayan mengobati sedikit kehausan bacaan cetak.

Baca lebih lanjut

A Happy Playlist

2013. What a year.

Setelah blogwalking ke blog teman-teman seumur dan menemukan posting mengenai catatan akhir tahun (dan tulisan-tulisan dengan tema itu), 2013 sebagian besar dirasakan sebagai tahun yang berat, terutama bagi kami sarjana-sarjana muda yang baru lulus dari entitas ideal bernama kampus, dan menghadapi dunia sebenarnya. well, teman saya nggak sebanyak itu sih untuk bisa lantas menggeneralisasi kesimpulan tersebut, stillreal world-problems, I must say.

bagi saya sendiri, tema yang saya rasa tepat untuk 2013 adalah legowo. saya belajar untuk memberi ruang error atau galat yang cukup besar, dan harus masih bisa saya toleransi pada tiap-tiap rencana saya.

salah satu hal menarik saya dapat sehabis menonton salah satu episode serial amerika kesukaan saya, How I Met Your Mother. Di episode tersebut, Ted, si pemeran utama, mengutarakan teori bernama Over-correction. koreksi berlebihan. di situ sih Ted mengambil contoh kasus memilih pasangan, misalnya si X, setelah putus dari si A yang sukanya party dan hura-hura keluar malam disko dan sebagainya, berikutnya memilih si B yang anak rumahan, pendiam, pokoknya berbeda 180 derajat dari si A. Namun rasanya sih teori ini nggak cuma berlaku pada kasus-kasus seperti itu saja.

saya merasa melakukan ini di 2013, dan lumayan ekstrim. berubah dari saya yang over-thinker sehingga seringkali lambat mengambil langkah pertama, menjadi saya yang agak terlalu impulsif dan tanpa berpikir panjang. walhasil saya kena tegur bapak saya setelah tiga kali melakukan ini (dan resikonya lumayan, berbau uang 😦 ). saya termasuk jarang sekali kena tegur bapak, seingat saya terakhir itu saya kelas 1 SMA dan itupun nggak eksplisit, cuma ditanya, “kamu bikin masalah apa?” lewat telepon. kali ini saya kena tegur dengan kalimat langsung disuruh introspeksi. hahaha.

lucunya, baru saya sadari sebenarnya tiga kesalahan tersebut adalah tiga keputusan yang saya buat sendiri, tanpa mau tahu pendapat orang tua, teman, keluarga, (yah, dan kurang riset juga sih hahaha bagian ini salahnya 😛 ). I took a path and it went terribly wrong, pertanyaannya, apa setelah ini saya akan takut mengambil jalan lagi dan memutuskan nggak akan pernah bisa berjalan sendiri, atau pilihan lain yang tentu lebih baik? we’ll see 😀.

hal menarik ke-dua yang saya dapatkan di akhir tahun ini adalah… saya baru sadar beberapa tahun terakhir ini, dari setiap lagu baru yang menjadi favorit saya, tak ada satupun yang berirama ceria, happy, dan sebagainya. saya gatau sih ini berarti apa, hahaha, yang jelas, waktu saya kebetulan ingin bernyanyi riang, yang saya tahu lagu-lagu lama saja, yang saya kenal dulu semasa SMA ke belakang. saya juga nggak tahu ini masalah apa bukan sebenarnya hahaha, cuma merasa lucu aja. misalnya, dari sekian banyak lagu band Naif yang ceria dan lucu, yang paling saya suka malah “di mana aku di sini”, lagu yang galau banget -_-“.

It’s not that I wasn’t happy, it’s just.. mungkin saat-saat itu kepribadian saya lagi gothic (eh atau emo? hahaha), dan saya yakin itu tercermin juga pada tulisan-tulisan saya, cerpen-cerpen saya. kemarin saya over-correcting sedikit ini dengan 7 jam perjalanan dari Kaiserslautern ke München dengan kawan sambil  menikmati berbagai video klip SNSD Girl’s Generation yang didaulat punya irama yang nge-beat dan bersemangat. hahahaha lebaay.

so let’s list down a playlist with a new, up-beat songs: Happy.

what will be its first track, I wonder?

Basa-basi ala Jerman

Hari ini saya belajar sedikit tentang serba-serbi basa-basi orang Jerman (Smalltalk). Smalltalk yang dimaksud biasa dilakukan misalnya sambil nunggu bus, atau di dalam lift, dan bisa jadi kita nggak dekat, bahkan nggak kenal lawan bicaranya.
Ini berdasarkan observasi umum dan pendapat kawan-kawan, jadi, mungkin salah dan mungkin benar. Saya rangkum yang menurut saya unik dan berbeda dari kebiasaan kita di Indonesia. hehehe.

  • Topik basa-basi yang paling disukai orang Jerman: Cuaca. Mengeluh soal cuaca, bersuka karena cuaca, pokoknya kalau lagi belanja sampai bisa sok ngobrol sama kasir (terus berharap dikasih diskon) cuma dengan bilang, “ehrlich, heute, sehr warm, ne?” (indonesia: asli dah hari ini, panas banget ya?)
  • Jangan ajak basa-basi orang Jerman dengan topik berikut: Politik. berbeda dengan kita bangsa melayu yang suka ngupi-ngupi di warung sambil ngomongin pemerintah dan politik, di Jerman, kalau nggak terlalu kenal dekat dengan lawan bicara, mending simpan pandangan politik untuk diri sendiri deh. mereka nggak gitu suka ngomongin itu. Baca lebih lanjut

Bermuslim di Eropa

#1

*bel apartemen bunyi*

saya: (mikir, oh mungkin tukang pos bawain kiriman)

saya: (menekan intercom dan nanya, siapa di sana?)

*tiba-tiba pintu kamar diketuk*

saya: (kaget, ngintip lewat lubang intip di pintu, ada dua wanita berpakaian rapi dengan blazer, membawa semacam map. pengiklan? nawarin barang? atau… jangan sampe nawarin kepercayaan)

saya: (waduh, nggak bisa bohong, mereka udah tahu saya di rumah. membuka pintu)

wanita 1: sprechen Sie Englisch oder Deutsch? (indonesia: anda bicara inggris atau jerman?)

saya: Englisch verstehe ich besser (indonesia: bahasa inggris saya lebih bagus)

wanita 1: apakah anda percaya kehidupan setelah mati?

saya: (lemes. ini pasti lagi nyebarin kepercayaan. hadeuh) iya, percaya.

wanita 1: nah, kalo anda baca bible, anda akan temukan.. blablabla.. (ngomong panjang)

saya: (memotong) bentar mbak, ini ga liat apa yang ada di kepala saya? saya muslim, saya ga baca bible, saya udah punya kitab suci yang saya percaya.

wanita 2: iya kami tahu, tapi kan di kitabmu, kamu disuruh baca bible?

saya: hah? mana ada.

wanita 2: iya, saya juga baca lho kitab kamu. di kitab kamu juga mengutip kata2 dari taurat, dan kamu dianjurkan membaca bible dan taurat.

saya: mana ada, aduh, saya yang meluk agama ini, kok kamu yang sok tahu? udah deh, kepala saya lagi pusing, perut saya nggak enak karena belum buang air dari kemarin (curhat, bego), jadi saya nggak mood meladeni kalian, maaf ya, schönen Tag (inggris: have a nice day).

(nutup pintu. masuk kamar mandi. tutup pintu kamar mandi)

#2

beres praktikum yang lamanya 2 jam, saya dan  teman kelompok saya si johann segera ke ruang kerja kelompok di perpustakaan elektro untuk ngerjain laporan. begitu sampai di perpus, saya buka laptop dan refleks liat jam. waduh, waktu ashar habis 15 menit lagi. kalau pergi dulu ke “mushola” kampus, bisa nggak keburu.

saya akhirnya minta izin johann buat sholat dulu. saya ke wc, ambil wudhu. kebetulan materi pengajian muslim kaiserslautern minggu sebelumnya membahas tentang tata cara dan keutamaan ibadah di musim dingin (mengenai ini mungkin saya akan bahas di lain kesempatan). waktu itu dibahas tata cara wudhu dengan tetap memakai sepatu, yaitu dengan cara tangan dibasahkan dan diusapkan ke permukaan sepatu (bukan bagian bawahnya). nah nanti saat sholat, saya harus pakai sepatu itu.

kaget? iya, saya juga. tapi melalui diskusi dan membandingkan argumen serta dalil dari sana-sini (dari pendapat ulama-ulama eropa tentu saja), saya jadi yakin dan semakin merasa, islam itu mudah ternyata!

selesai wudhu, saya kembali ke perpus dan bersiap sholat. saya lebarkan jaket saya hanya sebagai alas untuk sujud di lantai. johann diam saja, mungkin juga dia baru pertama kali lihat muslim mendirikan sholat.

terus, saya sholat deh. pake sepatu.

what a feeling. di indonesia sih mana pernah kepikir sholat pakai sepatu, wong dimana-mana mushola (dan mukena yang bisa dipinjemnya) gampang ditemuin, tempat wudhu juga berlimpah air dan ada tempat khususnya.

ya di sini susah, jadwal kuliah suka bentrok makan waktu sholat (apalagi di musim dingin, waktu dzuhur cuma dari jam 12.30 – 14.15an, kurang dari 2 jam, kalo harus pulang dulu untuk sholat nggak sempat. bahkan pergi ke “mushola” kampus juga jauh makan waktu, beneran harus ngakalin banyak hal 🙂

awalnya saya pikir keringanan yang boleh dilakuin itu sampai sholat sambil duduk dan bertayamum. terus saya pikir lagi, sebenarnya saya masih bisa wudhu dengan air, dan saya masih bisa bergerak dengan bebas untuk melakukan gerakan sholat. nggak misalnya sempit berdesakan penuh orang seperti di dalam kereta KRL di indonesia, gitu, saya masih bisa lari-lari bahkan.

jadi, islam itu mudah, tapi tidak remeh. lakuin semaksimal yang kita bisa, tapi jangan cari sulitnya. beribadah di tempat dimana islam nggak dikenal itu punya kesan tersendiri ternyata. kita jadi cari tahu banyak hal, boleh nggak gini, boleh nggak gitu, inti dari ibadah itu apa. juga ada perasaan takut sih ya, soalnya beberapa bagian dari wilayah jerman masih kuat rasismenya (biasanya disebut neo-nazi), tapi alhamdulillah di negara bagian saya hal itu nggak terjadi, mungkin karena di sini sudah banyak orang luar Jerman (jerman: Ausländer) berdomisili di sini: mereka-mereka yang kuliah di Universitas, dan juga orang Amerika anggota US Army yang biasanya bawa keluarga (soalnya di negara bagian saya banyak US Military Base, katanya jumlahnya sampai delapan).

yah, pokoknya, sholat dengan sepatu, achievement unlocked! hahaha